Dilema Anak Belajar Membaca dan Berhitung Usia Dini

Dilema Anak Belajar Membaca dan Berhitung Usia Dini

Banyak kalangan yang masih pro dan kontra mengenai mengajarkan membaca dan berhitung pada anak usia dini. Sebagian mengaku bahwa membaca dan berhitung pada usia anak usia dini berarti memaksakan anak guna memiliki keterampilan yang seharusnya baru diajarkan di bangku sekolah dasar.

Hal ini menyebabkan waktu bermain yang seharusnya ialah aktivitas berpengaruh di usia mereka berkurang atau bahkan terabaikan, sampai-sampai dikhawatirkan bakal menghambat pertumbuhan potensi dan keterampilan anak secara optimal di lantas hari.

Sebagian beda berpendapat, tidak masalah mengajarkan membaca dan berhitung sejak anak usia dini. Biasanya yang mempunyai pendapat guna membolehkan anak diajarkan baca dan tulis dilatarbelakangi supaya anaknya tidak mengalami kendala ketika masuk SD. Tuntutan masuk ke SD pada ketika ini mensyaratkan bahwa anak sudah dapat untuk membaca dan menulis.

Dengan adanya perdebatan tersebut, tidak jarang menciptakan orangtua menjadi bingung, pendapat mana yang mesti diikuti, sebab masing-masing pendapat memiliki dalil yang lumayan kuat. Orang tua dan guru mesti bersikap budiman dengan menilai penyelesaian terbaik.

Di satu sisi anda sebagai orang tua atau guru tentunya mengharapkan potensi dan keterampilan anak bisa tumbuh optimal melewati stimulasi edukasi yang tepat yang akan anda ajarkan untuk mereka, namun tetap tidak mengurangi kegiatan dominan di usia mereka yakni bermain.

Pertanyaannya tidak lagi apakah seorang balita dapat diajar membaca atau tidak, namun bagaimana melatih anak balita membaca? Di Jepang dan negara-negara maju lainnya anak-anak sudah diperkenalkan membaca sejak mereka tetap pra-TK. Mereka pasti tidak hendak ‘mengorbankan’ anak-anak mereka andai mereka tahu bahwa belajar membaca akan berdampak buruk untuk anak mereka di masa depan.

Bagaimanapun metode melatih anak usia dini guna membaca, berhitung dan berhitung mesti benar-benar diperhatikan. Mengajar untuk anak usia dini mesti dilaksanakan dengan keadaan gembira, tidak formal atau serius seperti melatih anak yang telah usia SD, sebab ini akan memunculkan kejenuhan atau rasa jenuh pada anak. Mengingat fokus pada anak usia dini guna satu topik kupasan saja masih paling terbatas.

Oleh sebab itu, materi latihan yang diserahkan jangan terlalu tidak sedikit dan durasi belajar tidak boleh terlalu lama. Belajar dilaksanakan dengan pendekatan yang mengasyikkan anak, bukan dipaksakan sampai-sampai si anak bakal merasa terbebani. Namun, kerjakan sambil bermain sehingga kegiatan dominan anak pada usia tersebut, yakni dunia bermainnya mereka tidak hilang. (Enn)